Ternyata kita perlu benar-benar kenal dengan kapasitas diri, meskipun tidak semua kapasitas dalam diri sendiri bisa dipahami dengan baik. Terlebih kita ini hanya hamba yang tugasnya itu manut sama yang menciptakan. Terkadang kita sering memaksakan apa yang hati kita inginkan, tapi fisik sudah tidak mampu untuk menjalankan lagi. Alhasil, terjadi kedzoliman pada diri sendiri yang berimbas pada kesehatan, tidur yang kurang, makan yang tidak teratur dan lain-lain.
Saat ini aku sedang belajar untuk bisa memahami diriku, memahami proses-proses organ tubuhku, memahami mana yang masih bisa kukerjakan mana yang tidak. Memahami bahwa tidak semua hal harus kita kejar apalagi kalau dalam proses mengejar itu kita malah abai dengan diri sendiri.
Sebagai orang yang sangat ambisius, aku mulai sadar bahwa menambah wawasan itu memang penting, belajar itu memang penting, tapi aku harus bisa menggaris bawahi beberapa hal yaitu paham bagaimana kondisi tubuhku. Paham kapan aku harus beristirahat, kapan aku harus meredam rasa ambisius ini. Sejak beberapa bulan ini aku menyadari keambisiusanku dalam mencoba banyak hal baru, yang jujur dulu sering kutepis dengan berbagai macam pembenaran. Gengsi menyebut diri ambisius aku jadi membuat banyak hal seolah-olah aku tidak ambisius, tapi nyatanya berbalik. Aku merasa penting untuk mengakui itu, penting agar aku tidak semaunya memperlakukan diri.
Sesuaikan dengan Kemampuan Fisik
Beberapa hari yang lalu aku mencoba untuk mendaftar sebagai PJ disalah satu komunitas Literasi dengan alasan aku mau belajar banyak hal baru. Pikirku saat itu, "mumpung belum nikah kayaknya aku harus bisa mengeksplor banyak hal disekelilingku, belajar apa saja yang bisa mengembangkan potensi yang kumiliki". Semua berusaha untuk aku coba termasuk menulis blog ini.
Mencoba banyak hal baru menjadi sebuah kesenangan untukku, aku jadi punya wawasan baru terkait apa yang kucoba. Seperti misal menulis blog, tidak sekedar meluapkan isi kepala tapi juga bisa menjadi wasilah kebaikan orang lain belajar dari apa yang sudah kita tulis. Dan dalam menekuni aktifitas menulis ini bikin aku senang sekali, karena aku seperti berbicara meskipun bentuknya tulisan bukan lisan.
Sebelum aku mendaftar jadi PJ di sebuah komunitas Literasi, aku memang sedang mengemban beberapa amanah di komunitas lain yaitu Komunitas 30harimembaca. Komunitas pertama yang aku ikuti. Didalamnya, aku diberi amanah sebagai seorang sekretaris yang mengurusi hal-hal berkaitan dengan surat-menyurat, proposal, dan notulensi meeting. Tidak cuman itu, karena aku juga masih bergelut di divisi lain yaitu Lobby Saturasa milik komunitas 30harimembaca. Nyambi lagi sebagai koordinator squad regional Makassar (ini sebelumnya pernah kulepas karena kebanyakan jobdes, tapi berhubung koordinator sebelumnya sedang rehat jadi amanahnya dialihkan ke aku). Kalau misal dilihat kembali, "kenapa mesti aku, kan banyak orang yang gabung Squad Regional Makassar". Ini menjadi dilema founderku kemarin, karena ternyata teman-teman yang gabung di squad regional Makassar belum sepenuhnya mau untuk berkontribusi dikomunitas ini. Komunitas 30harimembaca ini berjalan secara online, jadi buat aku lebih bisa sedikit mengatur waktu antara amanah online dan amanah di real life. Meskipun keduanya itu sama padatnya.
Real life aku juga cukup padat dengan aktifitas-aktifitas, karena aku seorang pekerja maka waktuku dipagi hari sampai sore menjelang malam itu adalah kerja. Yang buat aku semakin penuh diwaktu malam adalah karena ditempat aku bekerja ada kebijakan untuk tidak menggunakan handphone selama bekerja. Handphone harus disimpan diloker masing-masing. Jadi aku baru bisa menjalankan amanahku dikomunitas itu saat sampai rumah. Mungkin ada yang ngomong gini "capek banget sih mi' jadi kamu, nggak cuman kerja tapi juga ngurusuin komunitas yang sebenarnya kamu nggak di gaji tapi kok mau aja capek-capek". Bagiku berkontribusi untuk mengajak orang-orang peduli dengan pendidikan, peduli dengan literasi adalah sebuah pilihan. Peradaban gemilang kan datangnya dari umat-umat yang cerdas. Niat awal aku gabung dikomunitas ini untuk bisa mengajak lebih banyak orang suka baca buku, biar orang-orang bisa lebih cerdas, dan tidak mudah dibodoh-bodohi dengan rezim hari ini. Meskipun enggak dibayar sekalipun, niat diluruskan untuk meraih ridho Allah.
Di real life enggak cuman kerja, aku juga ada aktifitas rutin tiap pekan yaitu mengkaji islam secara intensif. Aku ngaji dua kitab di waktu yang berbeda dalam sepekan. Ada yang, kamis pagi jam 07.00 WITA, dan ada yang sabtu pagi jam 06.00 WITA. Sebenarnya aku juga ikut kelas Tahsin setiap hari senin dan rabu pagi jam 07.00 WITA tapi kelasnya berlangsung secara online, begitupun dengan kelas Bahasa Arab setiap rabu malam jam 20.00 WITA. Menurutku ini belum seberapa, diluar sana ada orang yang mungkin lebih padat waktunya dengan aktifitas yang bermanfaat. Dan aku hanya sebagian kecil dari mereka yang sedang berusaha produktif.
Dengan semua aktifitas yang aku geluti itu, akhirnya membawa aku sampai dititik untuk tidak lagi menambah amanah yang harus dikerjakan secara terus-menerus. Seperti bergabung dengan komunitas. Aku paham, Allah akan memudahkan kita untuk menjalankan segala kebaikan yang ada. Tapi juga aku sadar bahwa merawat diri, menjaga kesehatan, adalah hal yang Allah inginkan. Tubuh yang Allah kasih ini harus aku jaga, jangan sampai karena aku terlalu ambisius malah mendzolimi tubuh yang sudah Allah berikan ini.
Kamu Perlu Untuk Istirahat
Aku sadar betul bahwa dengan menggeluti banyak aktifitas tidak jarang aku malah memilih untuk tetap mengerjakan amanah dibandingkan istirahat atau sekedar me time. Padahal kesehatan itu penting banget untuk dijaga. Ini juga yang masih menjadi tugas untukku, saat istirahat aku belajar untuk langsung istirahat tidak lagi mengambil handphone dan mengurus-ngurus yang lain.
Hal yang sedang aku usahakan juga adalah tidur lebih awal. Untuk pekerja kreatif, tidur lebih awal itu bukanlah kebiasaan yang perlu diterapkan. Karena seringkali ide-ide kreatif itu munculnya di malam hari. Saat orang-orang sedang beristirahat, mereka yang bekerja di dunia kreatif lebih memilih begadang untuk mengerjakan ide-ide yang sudah didapatkan.
Pagi hari bukan hal yang buruk, saat aku bangun lebih awal dan mencari ide di pagi hari, rasanya otak lebih fresh untuk berpikir. Itu sebabnya saat ini aku belajar untuk tidur lebih awal dan mengambil jeda di pagi yang lebih awal untuk mencari ide atau sekedar membuat script untuk konten.
Mungkin kita merasa istirahat itu bisa dilakukan nanti. Tapi menurutku selagi kita punya kesempatan untuk menjaga kesehatan, menjaga apa yang sudah Allah titipkan kenapa tidak dimulai dari sekarang. Tidur diawal waktu terdengar sulit untuk sebagian orang yang belum terbiasa dengan aktifitas itu. Tapi bukan berarti kita tidak bisa mengerjakannya kan.
Mulai Mengatur Waktu
Sebelumnya aku tidak begitu peduli dengan manage waktu. Semua aku kerjakan tanpa perlu pertimbangan diwaktu apa aku harus mengerjakan pekerjaan A, B dan lain-lain. Dan cara ini ternyata bikin aku jadi riweh sendiri. Deadline menumpuk, belum lagi kalau kerjaan dikantor juga nambah terus. Sampai aku pernah berpikir untuk tidak tidur semalaman penuh demi menyelesaikan pekerjaanku yang menumpuk itu.
Dari situ aku mulai memetakan kembali terkait prioritasku. Musrifahku sering banget menasehati terkait skala prioritas. Bahwa semua harus dikembalikan mana yang benar-benar menjadi prioritas kita. Seperti halnya kajian rutinku tiap pekan. Di dalam hidupku kajian rutin itu adalah prioritas, why? Karena itulah charger iman sesungguhnya. Sebagai manusia yang masih banyak futurnya, mengkaji islam secara intensif itu perlu apalagi ditengah rusaknya sistem hari ini. Kita tidak bisa selamanya bergantung pada manusia yang dasarnya terbatas. Makanya circle anak ngaji ini membuat aku bisa lebih kuat saat ditimpa berbagai ujian hidup.
Sebelum sampai dititik aku bisa mengelolah waktuku dengan baik (sebenarnya ini masih belajar sih), aku suka banget datang di mepet-mepet waktu kajian dimulai. Dari situ musrifahku dengan sabar untuk terus mengingatkanku untuk lebih cerdas lagi mengelolah waktu. Kalau waktu kajianku di pagi hari jam 7 pagi maka aku harus bangun mentok di jam 4 pagi biar bisa melakukan morning routine. Sholat, tilawah, dzikir pagi, dengerin podcast inspiratif, bersih-bersih, dan lainnya.
Intinya memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai ada waktu yang kosong dan bisa membuat kita jadi gabut unfaedah.
Hal yang perlu digaris bawahi dalam ikhtiar mengelola waktu dengan baik adalah minta ke Allah. Minta ke Allah untuk terus disibukkan dalam perkara kebaikan, terlebih buat kita cewek-cewek. Lengah dikit langsung mau nikah hahahahah
Meskipun nggak semua. Aku belajar bahwa setiap manusia itu punya naluri atau bahasa kerennya Gharizah. Dan salah satunya adalah Gharizah Nau' (Naluri mencintai). Konteks mencintai disini bukan cuman ke pasangan tapi bisa ke keluarga, sahabat, dan lain-lain. Hanya saja sebagai perempuan yang fitrahnya memang ke perasaan, naluri ini seringnya jatuh ke lawan jenis. Impactnya kita jadi kepikiran terus atau bahkan terlalu sibuk dengan prasangka-prasangka ke lawan jenis itu. Makanya dalam mengatur waktu, sering-sering minta ke Allah untuk disibukkan dalam hal kebaikan.
Aku kalau doa suka gini "Ya Allah Sibukkanlah aku dalam hal-hal yang bermanfaat untuk akhiratku". Tapi sebelum doa harus sesuai dengan runutan doa yang baik, yang diawali dengan basmalah, memuji Allah dengan Asmaul Husna, Shalawat, kemudian baru kita sampaikan doa kita seperti apa.
Tidak Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Sebenarnya aku tidak mau memasukkan subbab ini ke tulisanku karena jujur untuk selesai dengan masalah membandingkan diri memang tidaklah mudah. Bahkan sampai aku menulis blog ini pun aku masih berusaha untuk berdamai dan tidak membandingkan pencapaianku dengan orang lain. Ntah itu sekedar membandingkan pencapaian, membandingkan kemampuan, materi dan lainnya.
Meskipun belum sepenuhnya berhenti untuk membandingkan diri, aku sekarang lebih bisa belajar berdamai dengan realitas, berdamai dengan banyak hal, berdamai tentang tidak semua hal harus dibandingkan. Karena kapasitas setiap orang berbeda.
Salah satu caraku untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain adalah tidak menyibukkan diri dengan scrolling sosmed. Kalaupun scrolling, aku selalu berusaha untuk mencari apa yang kubutuhkan. Misal cari ide konten berarti fokusku di ide konten itu bukan yang lain. Sebenarnya aku juga masih belajar tentang berhenti membandingkan diri ini. Yang kuyakini adalah setiap orang punya proses yang berbeda-beda, setiap orang punya fase yang berbeda-beda. Cepat atau lambat itu bukanlah hal yang harus ditakutkan, bisa jadi proses kita memang belum sampai di tahap itu. Makanya kenapa kita mesti memahami tentang kapasitas diri.
Kita mulai memahami, bahwa sebagai manusia yang terbatas tidak semua hal bisa dikerjakan. Terkadang kita harus memilih salah satunya saja agar tidak membuat kita menyakiti diri sendiri terlebih menyakiti orang lain karena keserakahan kita.
Posting Komentar