Aku Si INFP-T

Mungkin tidak banyak yang akan percaya bahwa aku punya kepribadian INFP-T alias introvert . Dengan yang mereka lihat aku sering muncul di media sosial, ntah itu buat konten, atau apapun, mereka pasti…
Aku Si INFP-T

Belajar Menjadi Morning Person

 


Sebagian dari kita mungkin menganggap bangun pagi itu adalah hal biasa, apalagi bangun lebih awal dan memulai aktivitas lebih awal. Mungkin ada juga yang terbiasa bangun lebih pagi, tapi tidak terbiasa melakukan aktivitas lebih pagi, seperti bersih-bersih, mandi, baca buku, dan lainnya. Malah pagi harinya dilakukan dengan bermalas-malasan dikasur sampai jam 9 pagi. Ada juga yang bangunnya lebih pagi dan langsung beraktivitas, ikut kelas, tilawah, bersih-bersih dan kegiatan lainnya. 

Dulu aku termasuk orang yang susah banget bangun pagi, apalagi pas udah tamat sekolah. Goler-goleran di tempat tidur rasanya lebih nikmat dibanding harus bangun pagi, mandi dan berangkat kerja. Bahkan seringkali tiap alarm berbunyi aku malah hanya bangun untuk mematikan alarm itu dan kembali untuk tidur. Sampai akhirnya aku sadar bahwa pagi itu bukan musuh, tapi kesempatan.

Sebagai seorang muslim aku belajar bahwa ternyata bangun lebih awal itu punya banyak manfaat, tidak hanya untuk sekedar menyelesaikan pekerjaan atau belajar tapi aku juga bisa lebih banyak mendekatkan diri ke Allah dengan Tahajjud, Tilawah atau Dzikir. 

Kenapa Penting Menjadi Morning Person

Pagi hari kita akan punya banyak waktu untuk melakukan beberapa hal penting seperti ibadah, sholat, baca buku. Pagi hari juga memberikan kita banyak energi positif, udaranya sejuk, masih kurang dari polusi, dan gangguan yang minim. Dengan bangun lebih pagi mood kita akan kembali seperti 100 persin. Menurut Nationalgeographic.co.id sekadar bangun tidur satu jam lebih pagi dapat mengurangi risiko terkena depresi berat sebesar 23 persen.

Tidak hanya itu, didalam islam ada keberkahan di waktu pagi. Dalam sebuah hadist menjelaskan tentang betapa pentingnya bangun pagi, bahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam pernah berdoa di waktu pagi. 

"Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya." (HR. Abu Dawud)

Menurutku, puncak dari waktu kita setiap harinya adalah waktu pagi. Ketika pagi kita lebih awal, kondisi tubuh seharian juga akan sangat segar, pikiran fresh, ada banyak ide-ide yang bisa didapatkan waktu pagi hari. Dan jujur aku pribadi merasakan itu.

Selama memilih untuk ikut beberapa aktivitas seperti kelas tahsin atau pengajian-pengajian rutin tiap pekan, secara tidak langsung kebiasaan aku terbentuk untuk bangun lebih awal menyiapkan semuanya. Awal mencoba, aku merasa struggle banget karena di mindsetku adalah bagaimana mungkin aku bisa bangun lebih awal sedangkan jam tidurku di malam hari tidak menentu. Kadang jam 12 malam atau setengah 1 malam. Yahh, satu kebiasaan yang jujur sampai hari ini masih berusaha kuperbaiki.

Setelah melewati berbagai fase untuk bisa konsisten produktif di awal waktu alhamdulillah sekarang aku mulai terbiasa. Hingga akhirnya aku bisa memutuskan untuk ikut kelas tahsin yang jadwalnya jam 6 pagi. Ini jadi pemicu paling kuat menurutku. Saat kita berkomitmen untuk ikut kelas misalnya, ini akan membantu kita agar bisa memaksa diri bangun lebih awal, beraktivitas lebih awal. Saat tidak berhasil bangun lebih pagi konsekuensinya hanya satu, kita ketinggalan ilmu yang pasti akan sangat bermanfaat.

Hambatan yang Sering Dialami

Sebenarnya ada banyak hal yang menjadi hambatan saat kita berusaha untuk mulai jadi morning person, seperti tidur larut malam karena gadget atau memang karena begadang. Hal ini akan sangat mempengaruhi waktu bangun pagi kita. Saat memilih tidur larut malam sedangkan besoknya ada kelas, terkadang aku merasakan kantuk berat saat kelas dimulai. Hal ini terjadi karena aku memilih tidur terlalu larut. Maka pentingnya menentukan pilihan dalam hidup, saat aku memilih tidur terlalu larut konsekuensi yang akan kuterima adalah rasa kantuk yang sangat berat saat sedang beraktivitas. 

Meskipun terjadi seperti itu, sampai saat ini aku sedang memperbaiki jam tidurku dengan mengurangi penggunaan gadget dimalam hari. Dan ternyata ini sangat ampuh. Dibeberapa kelas produktifitas yang pernah kuikuti juga menjelaskan demikian, saat kita ingin tidur lebih awal makan batasi penggunaan gadget. Bisa dengan memberi waktu 10 menit sebelum tidur untuk tidak memegang gadget sama sekali. Kalau aku biasanya diganti dengan membaca buku. 

Jujur aku belum bisa menerapkan 10 menit sebelum tidur jauhkan gadget dari dekat kita, tapi aku mencoba untuk menggunakan mode sleep di handphoneku. Dengan mengatur mode sleep ini membantuku untuk tidak mendengar notifikasi lagi, dan aku tidak akan dengan sengaja untuk membuka pesan whastapp hanya karena alasan ada chat dari teman.

Hal yang menjadi hambatan juga adalah bangun tanpa tujuan yang jelas. Seringkali saat bangun kita bahkan bingung akan melakukan apa. Jadinya yang pertama diraih adalah gadget. Scroll sampai waktu berlalu begitu saja.

Pentingnya kita membuat to do list, biar dalam sehari kita bisa melacak hal-hal apa saja yang ingin kita lakukan. Baik itu dari bangun tidur hingga tidur lagi. Mungkin ada orang yang terbiasa dengan membuaat to do list mencatat aktivitas dan di jam berapa ia ingin melakukannya. Tapi ternyata tidak semua orang bisa konsisten untuk membuat to do list. Salah satu contohnya aku. Beberapa kali aku mencoba untuk membuat list aktivitas apa saja yang akan kulakukan besok, itu kulakukan malam hari sebelum tidur. Hanya berjalan beberapa hari kemudian lepas. Mungkin niatku belum lurus, mungkin aku belum begitu yakin dengan diriku sendiri. Dan masih banyak prasangka-prasangka lainnya. Meskipun begitu, aku tetap menjalankan aktivitas seperti biasa tanpa harus membuat to do list

Aku tahu dengan membuat to do list aktivitas kita bisa tertata rapi. Kita nggak bingung lagi mau ngapain dan jam berapa. Tapi menurutku, setiap orang punya caranyaa sendiri untuk bisa mencatat daily tasknya. Ditulis atau tidak, kembali ke personnya. Mana yang bisa membuanya nyaman.

Kendala yang sering terjadi juga adalah lingkungan yang kurang mendukung. Dibeberapa kondisi ada orang yang memang lingkungannya sangat tidak memungkinkan untuk dia menjadi morning person. Semisal, numpang dirumah nenek yang notabenenya dia tidak sendiri. Pasti ada keluarga lainnya dirumah tersebut. Hal ini pernah kualami, saat masih numpang dirumah nenek. Aku agak kesulitan untuk bangun lebih awal dikarenakan takut membangunkan yang lain. Saat bangun pagi aku ingin langsung mandi dan menjalankan aktivitas belajar dan lain-lain. Tapi beberapa anggota keluargaku merasa terganggu karena mereka akan mendengar suara kran air yang menyala di jam 3 pagi. Dan bagi mereka jam 3 pagi itu masih malam dan masih masuk waktu tidur.

Tidak hanya itu, untuk tidur lebih awalpun cukup sulit karena suara bising yang terlalu banyak. Aku juga nggak ngomong kalau tinggal bersama keluarga itu membuat kita tidak produktif, hanya saja ini kendalaku pribadi dan aku yakin bisa jadi ada yang merasakan hal yang sama. Atau mungkin kendala yang mereka rasakan malah berbeda.

Bagiku, hambatan itu akan terus ada dimanapun kita berada. Numpang dirumah nenek, tinggal dirumah sendiri, semua pasti ada hambatan. Tapi kembali lagi bagaimana cara kita belajar dari hambatan itu dan mencoba mencari solusi untuk keluar dari setiap hambatan yang sedang dialami.

Pola Pikir Negatif Tentang Pagi: "Aku Bukan Morning Person"

Dulu aku sering banget pesimis dengan kemampuanku, terlebih kemampuan untuk menjadi morning person. Bahkan dikepalaku terasa di setting untuk memikirkan bahwa aku bukan morning person. Hingga akhirnya dari pola pikir itu membawaku tidak bisa melakukan apa-apa di pagi hari. Efek dari pola pikir itu sangat besar menurutku, karena dapat mempengaruhi segala aspek dalam hidup kita. Terlihat remeh tapi dampaknya akan sangat besar kedepannya.

Makanya sebelum membentuk diri menjadi seseorang yang lebih baik, pola pikir menjadi satu instrumen yang harus diluruskan sebelum semuanya. Singkirkan pikiran bahwa kita bukan morning person. Bawa pikiran bahwa kalau orang lain bisa menjadi morning person harusnya kita juga bisa menjadi morning person. Why? Yahh karena kita sama-sama manusia, kemampuan yang diberikan Allah kepada kita sama. Kenapa harus takut gagal sedangkan segalanya tidak ada yang instan.

Sejak saat itu akhirnya aku mencoba untuk merubah pola pikirku. Membuat alam bawahku bekerja seakan-akan aku adalah seorang morning person yang handal. Aku bisa melakukan semuanya dipagi hari. Aku bisa bangun lebih awal dan mengerjakan banyak hal di pagi hari.

Salah satu bentuk realisasi itu adalah dengan aku bisa ikut kelas Tahsin di jam 06.00 WITA. Dan yang pasti atas izin Allah. 

Dalam setiap kesempatan saat ingin memulai sesuatu aku selalu celetuk ringan seperti "ya Allah bantu hamba yang lemah ini, bantu hamba bangun pagi ini lebih awal". Kuucapkan dalam hati atau langsung secara lisan.

Kesadaran bahwa kita lemah juga menjadi hal yang penting, karena dengan ini kita akan lebih banyak meminta perlindungan dari Allah dan minta dikuatkan untuk bisa menjalankan apa yang menjadi mimpi-mimpi kita. Tidak hanya mengubah pola pikir tapi juga menguatkan tekad bahwa semua akan bisa kita lakukan selagi Allah selalu disamping kita.

Caraku Belajar Menjadi Morning Person

Meskipun belum sempurna menjadi morning person aku belajar banyak hal, seperti mengatur waktu tidur, lakukan screen time 10 menit sebelum tidur dan masih banyak lagi. Belum terterapkan semuanya. Tapi aku percaya langkah kecil yang pelan-pelan kubangun akan bisa teratasi. Kalau untuk saat ini yang aku terapkan adalah mengaktifkan mode sleep pada handphoneku. Sebagai orang yang mudah sekali terdistraksi dengan sesuatu, suara atau yang lain-lain cara ini ternyata ampuh pada diriku. Karena tidak lagi menerima notif akhirnya mataku mudah ngantuk.

Tidak cuma itu, aku juga mulai menerapkan saat bangun tidak langsung meraih handphone. Meskipun jujur itu tidaklah mudah. Aku harus merepitisi setiap hari, setiap waktu. Apalagi di era sekarang teknologi sudah menjadi seperti makanan sehari-hari, tidak lengkap hidup ini rasanya tanpa gadget.

Bagiku pagi hari memang awal waktu yang tepat untuk mengerjakan pekerjaan yang sejak malam harinya tertunda. Sesekali aku merasakan nikmatnya produktif dipagi hari, yahh meskipun belum bisa konsisten setiap hari.

Mungkin ditulisan ini aku belum bisa membagikan banyak tips tentang menjadi morning person, tapi aku berharap dengan membaca tulisan ini ada yang mulai tergerak untuk menjadi morning person. Percayalah tidak ada yang mudah, kita hanya perlu mulai saja, dan tidak harus sempurna sih menurutku. Bahkan saat aku merasa gagal, aku berusaha memotivasi diriku bahwa kesalahan itu tempatku belajar akan banyak hal yang tidak aku kuketahui.


Semoga kamu juga termotivasi untuk menjadi morning person yang produktif setiap hari.

Posting Komentar