Mungkin tidak banyak yang akan percaya bahwa aku punya kepribadian INFP-T alias introvert. Dengan yang mereka lihat aku sering muncul di media sosial, ntah itu buat konten, atau apapun, mereka pasti menebak bahwa aku orang yang ekstrovert. Dulu aku juga begitu, aku mengira diriku ekstrovert karena aku bisa dengan mudah menyapa orang yang belum kukenal, mengajaknya kenalan, minta nomor WA dan lainnya. Tapi setelah aku mencoba mencari tahu perihal kepribadianku ini, ternyata menurut pengetesan di salah satu website cek kepribadian MBTI menunjukkan bahwa aku introvert. Sebelum melakukan pengetesan, aku sempat bertanya ke beberapa teman terkait dengan kepribadianku, yang salah satunya bisa menjadi orang yang malas ngomong atau bersosialisasi.
Kejadian ini bukan pertama kali, bahkan memang sering kualami, aku merasa butuh waktu sendiri. Butuh untuk tidak berdiskusi dengan yang lain, butuh yang benar-benar sendiri, awalnya kukira ini hanya feel not good tapi kok aneh, karena setiap selesai menyendiri aku jadi segar lagi. Setelah itu aku berdiskusi dengan temanku namanya Yuvina aku sering memanggilnya kak Vina, dan kak Vina berkata kalau kebiasaan itu hanya dialami oleh orang yang introvert, berarti aku termasuk orang yang introvert. Tidak hanya sampai situ, ternyata salah satu teman di Komunitas 30harimembaca khususnya Squad Makassar berkata “iya kak Miah emang intro, udah kelihatan banget”. Ternyata ada beberapa orang yang bisa membaca kepribadian seseorang lewat Gerak-geriknya atau pun gesture tubuhnya.
Introvert Bukan Penghalang
Dari riset kecil-kecilan yang coba aku lakukan, ternyata introvert itu bukan berarti kamu cuek, apatis, atau sombong. Introvert hanya berkaitan dengan cara mendapatkan energi. Mengutip dari lama American Psychology Assocciation, introversi adalah orientasi pada dunia pribadi internal diri, pikiran, dan perasaan batin seseorang. Introversi membuat seorang introversi relative menarik diri, tenang, tidak melibatkan diri secara sadar, memilih diam, mennjaga ekspresi rasa senang dan ketertarikannya. Orang yang introvert cenderung lebih skeptis dan memilih untuk kerja sendiri atau kerja mandiri. Dengan kerja mandiri dia bisa menyelesaikan semuanya tanpa terkena distraksi dari lingkungan sekitarnya.
Penjelasan diatas mungkin sedikit kontradiktif denga napa yang aku alami secara langsung. Dulu mungkin aku cenderung menarik diri, tidak terlalu senang bercampur dengan banyak orang, tapi aku menyadari kalau hal itu bisa saja membuatku tidak bisa mengeksplore banyak hal seperti punya teman baru, mencoba skill baru, atau belajar banyak hal baru. Sehingga aku lebih senang mengeksplore banyak hal, meskipun hati dan isi kepalaku saling keroyokan. Alhasil aku bisa bangkit dari segala rasa takut yang ternyata hanya ada dikepalaku.
Kalau ditanya apakah tidak capek dengan memaksa diri seperti itu? Yahh sudah jelas untuk orang introvert itu akan sangat melelahkan. Aku setiap sudah banyak bersosialisasi diluar rumah, ketemu banyak orang, banyak ngomong, Ketika sampai dirumah aku lebih banyak di dalam kamar, menghindari percakapan Panjang, bahkan chatingan pun aku hindari. Yang aku lakukan hanya diam di kamar, baca buku, setelah beberapa menit atau beberapa jam berdiam diri dikamar barulah aku keluar kamar ntah itu bantu ibu atau sekedar berbincang santai dengan ibu. Ada satu momen yang terekam jelas di kepalaku, saat aku di amanahi menjadi seorang Moderator di salah satu Kajian Remaja di Kotaku. Malam sebelum acara aku ada meeting dengan teman-teman dari komunitas 30harimembaca, sepanjang meeting aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun, aku lebih memilih mengetiknya di kolom chat. Saat itu aku merasa Lelah sekali untuk berbicara, dan kurasa itu pilihan terbaik semoga teman-temanku paham.
Seseorang pernah berkata padaku bahwa orang introvert itu nggak bisa apa-apa, tapi menurutku tidak. Introvert bukan berarti membuat kamu terus-menerus mengurung diri, semuanya berasal dari mindset. Jika mindset tentang introvert itu adalah pendiam, anti sosial, apatis dll maka kita tidak akan bisa berkembang. Tapi jika mindset itu di ubah menjadi seorang introvert juga bisa berkembang di banyak hal, dengan energi yang dia punya selalu ada jalan yang terbuka untuk eksplorasi diri. Aku punya teman Bernama Siti Wariama, aku sering memanggilnya kak Wari. Dia salah satu orang yang menurutku punya kepribadian introvert mentok, tapi siapa sangka kalau dia bisa mengeksplore kemampuannya di bidang kepenulisan. Bahkan dia sudah menerbitkan beberapa buku solo dan juga buku antologi, dia juga seorang penyunting. Maka semua kembali ke mindset, kita akan merasa kepribadian itu menjadi penghalang jika kita juga membatasi pola pikir
Menyadari Peran
Sebelum hijrah aku memang orang yang cukup tertutup, temanku tidak banyak. Tapi setelah hijrah, aku kenal dengan banyak orang. Aku punya teman di beberapa kota yang ada di Indonesia, mereka semua berpencar. Dari teman kajian, teman komunitas, atau teman-teman yang sering aku ajak untuk ikut berwakaf qur’an. Apa yang membuatku seterbuka itu? Karena aku mulai menyadari peranku sebagai manusia yang punya tugas untuk beribadah kepada Allah. Dan ibadah itu bukan hanya perihal sholat, puasa, zakat, sedekah dan haji, tapi seluruh aktivitas kita adalah ibadah selama niatnya karena Allah. Hal itu yang membuat aku bisa berdiri sejauh ini meskipun aku seorang introvert.
Menyadari bahwa sesama muslim itu kita adalah saudara, dan menjaga tali silaturahmi itu salah satu yang Allah perintahkan. Dan inilah yang mampu membuatku bisa bertahan, semua karena Allah. Padahal, ada banyak hal yang mungkin bisa aku jadikan alasan untuk tidak banyak sosialisasi dengan orang. Tapi karena berharap Ridho Allah maka semuanya hanya untuk Allah. Dan yang paling wajib dimiliki setiap muslim adalah Berkepribadian Islam, dimana semua hal yang ingin dilakukan selalu menyandarkan islam. Orang yang tidak terbiasa berbicara di depan umum akhirnya bisa karena menyadari bahwa setiap umat muslim punya kewajiban menyampaikan islam dari lisannya. Kalau kataku kita punya tugas beramar ma’ruf nahi mungkar.
“jadi jangan tutup diri kamu hanya karena kepribadian yang kamu miliki. Sejatinya Allah telah memberikan kita tugas yang nantinya akan menjadi pemberat amal ibadah kita di akhirat kekal”.
Posting Komentar